Penulis: Saskia E. Wieringa Ukuran: 15 X 23 cm Tebal: 542 hlm Penerbit: Galangpress ISBN: 978-602-8174-38-1 Harga: Rp 100.000,-
"Dalam bulan Februari 1967 kami ditahan. Saya disiksa begitu hebat hingga gigi-gigi saya rontok. Saya tak sadarkan diri selama tiga hari. Kemudia mereka menggali liang kubur dan akan menguburkan saya jika saya tidak mau menyebutkan nama dan alamat anggota lainnya."Sepeninggal pengakuan Sujinah, mantan pemimpin Gerwani ini hanyalah sekuku hitam dari kejinya penderitaan yang dialami oleh jutaan trapol perempuan korban tragedi G30S.
Kudeta berdarah itu menjadi bagian sejarah kelam perjuangan kemerdekaan kaum perempuan Indonesia. Pasca-G30S, para mantan anggota Gerwani, sebagian perempuan berhaluan nasionalis dan tak sedikirt para loyalis Sukarno disiksa luar-dalam hingga merengang nyawa. Selebihnya, banyak di antara mereka tertatih-tatih bertahan hidup di balik tembok penjara.
Semangat perempuan revolusioner yang didengung-dengungkan semasa Orde Lama, mendadak dimusnahkan manakala kekuasaan negara Orde Bar mencengkeram. Selama 32 tahun, ruang gerak perempuan dalam bersuara dan berpolitik dibungkam. Gerakan perempuan hanya sebatas gerakan pelengkap suami yang tercitrakan lewat Dharma Wanita. Aktivasi perempuan revolusioner dianggap sebagai ancaman. Untuk meredamnya, penguasa Orde Baru menyebarluaskan narasi sejarah fiksi tentang sepak terjang Gerwani yang digambarkan ganas dan tega membunuh para jendral.
Buku yang merupakan thesis untuk memperoleh gelar doktor di Universitas Amsterdam ini berkontribusi besar dalam menguak sisi gelap dan digelapkan atas peristiwa kudeta militer 1965. Akibat tragedi itu terjadilah pembunuhan massal masyarakat sipil tak bersalah serta upaya demonisasi salah satu organisasi perempuan terkuat pada zamannya sebagai dasar untuk melakukan pembungkaman bahkan upaya penghancuran gerakan perempuan di Indonesia. Buku ini layak menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah untuk menumbuhkan kesadaran baru atas kebenaran sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Buku ini layak menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah untuk menumbuhkan kesadaran baru atas kebenaran sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Catatan sejarah yang pedih yang merupakan tragedi kemanusiaan terbesar Abad XX yang tak boleh diingkari dan dilupakan. Nursyahbani Katjasungkana, SH -Koordinator Kartini Asia Network
Mempelajari kembali sejarah G30S versi Orde Baru, kita akan menemukan benang merah bagaimana rezim Orde Baru menguasai media massa dan menggunakannya untuk melakukan kampanye hitam. Cerita tentang kekejian Gerwani menjadi salah satu landasan untuk membangun Rezim Orde Baru dan mendongkel Rezim Sukarno. Seluruh fakta dan fiksi yang tumpang-tindih itu anti-ketertiban, penuh dengan revolusi, pengkhianatan, pembunuhan, dan sebagainya. Melalui buku ini, Saskia berhasil membongkar sebuah babak penting dalam sejarah Indonesia modern di mana unsur pidana kejahatan terhadap kemanusiaan begitu lengkap terjadi. Yosep Adi Prasetyo, - Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
Tip membeli buku : sebelum membeli buku, biasakan mencatat Judul, Pengarang, Penerbit, dan ingatlah sampulnya bagi Anda yang sudah menemukan review-nya baik di koran ataupun website. Lihatlah contoh buku yang telah terbuka plastiknya, dan simak daftar isi dan latar belakang penulisnya. Hal ini untuk memastikan Anda tidak membeli kucing dalam karung.
Siapa pun tak ingin menjadi yang tersisih dan terhina, termasuk untuk seorang narapidana. Tidak hanya mendapatkan hukuman, tapi masuk penjara merupakan beban moral. Belum lagi ia harus menerima penghakiman massal dari orang-orang sekitar yang merasa lebih bersih. Namun, dibalik semua itu, penjara bisa menjadi sebuah titik balik bagi manusia untuk menemukan Tuhan.
Dosa membuat manusia jauh dari Allah. Karena dosa juga hubungan manusia dan sesamanya menjadi retak. Lalu, bagaimana kalau manusia sudah terseret dalam dosa? Jawabannya adalah bertobat. Dengan bertobat maka manusia dapat dilahirkan kembali.