Penulis: Diana Andika Winda dan Efantino Febriana Ukuran: 13 X 19 cm Tebal: 141 hlm. ISBN: 602-8097-13-6 Penerbit: Biopustaka Harga: Rp 40.000,-
Peristiwa Mei 1998 menghasilkan buah manis bagi terbukanya demokrasi di Indonesia. Namun kemerdekaan ini harus dibayar dengan sangat mahal oleh anak bangsa. Peristiwa sepanjang 1998-1999 menyisakan luka mendalam di sanubari seluruh rakyat Indonesia. Ratusan jiwa melayang dalam peristiwa kerusuhan yang mewarnai reformasi. Terutama pelaku penculikan para aktivis, penembakan tragedi Trisakti, Semanggi I & II masih menyimpan tanda tanya besar, siapa aktor intelektual di balik peristiwa berdarah ini?
Berbagai peristiwa terutama di sepanjang tahun 1998 membawa pada sebuah isu besar mengenai rivalitas antara Wiranto dengan Prabowo. Keduanya melalui bukunya masing-masing berusaha menjawab dan saling menyanggah tuduhan satu sama lain. Kesaksian tokoh militer era reformasi ini juga diramaikan oleh kesaksian Habibie. Semua mempertahankan versinya masing-masing, akhirnya masyarakatlah yang bebas menyimpulkan apa sebenarnya yang terjadi di tubuh militer Indonesia kala itu. Rivalitas antara Wiranto-Prabowo ternyata tidak berhenti di ranah militer. Persaingan ini diteruskan dalam perebutan menuju kursi RI-1 dalam pemilu 2004 dan 2009.
Buku ini menyajikan dan menelisik apa yang terjadi dalam tubuh ABRI khususnya TNI AD menjelang dan sesudah Mei 1998. Buku-buku putih para tokoh ini kami jadikan rujukan dalam mendeskripsikan silang sengkarut kondisi militer dan bangsa ini pada 1998 hingga jelang Pemilu 2009.
Tip membeli buku : sebelum membeli buku, biasakan mencatat Judul, Pengarang, Penerbit, dan ingatlah sampulnya bagi Anda yang sudah menemukan review-nya baik di koran ataupun website. Lihatlah contoh buku yang telah terbuka plastiknya, dan simak daftar isi dan latar belakang penulisnya. Hal ini untuk memastikan Anda tidak membeli kucing dalam karung.
Percaya nggak, Anda bisa keliling Eropa selama sebulan dengan dana hanya 40 Euro? Rasanya memang mustahil. Namun seorang backpacker sejati, NoneSee, telah membuktikannya! Ia sudah keliling ke berbagai tempat yang unik dan menarik di benua Eropa dengan menyiasati segala keperluan. Toh, perjalanan malah bertambah seru, lucu, mengesankan sekaligus mengharukan.
Siapa pun tak ingin menjadi yang tersisih dan terhina, termasuk untuk seorang narapidana. Tidak hanya mendapatkan hukuman, tapi masuk penjara merupakan beban moral. Belum lagi ia harus menerima penghakiman massal dari orang-orang sekitar yang merasa lebih bersih. Namun, dibalik semua itu, penjara bisa menjadi sebuah titik balik bagi manusia untuk menemukan Tuhan.