Novel karya Afred Suci terbilang esentrik. Pertama kali saya
melihat buku ini, ada kesan mistis yang melekat di covernya, yaitu diselimuti
warna hitam. Di tengahnya cover tergambar kepala kambing bertanduk dua. Di
dahinya ada lambang pentagram dengan lima sudut. Sebuah angka pun tertulis:
666.
Dalam masyarakat awam, angka 666 ditafsirkan tentang keberadaan setan. Berbagai kajian film dan buku mengulas angka 666 lekat dengan kerasukan, sihir, aliran sesat, dan penyembahan berhala. Angka 666, ini pun memiliki sejarah makna dari berbagai kalangan agama dan budaya.
Angka 666 dalam bahasa Latin berarti DIC LVX “dicit lux” – suara cahaya. Maklum, setan dalam bahasa Latin sering diberi nama sebagai Lucifer (Lux Ferre) atau si pembawa cahaya. Dalam istilah astrologi disebut juga sebagai Bintang Fajar atau Venus atau planet ke-enam terbesar dalam tata surya kita.
Konon, Lucifer adalah malaikat yang sombong, kemudian jatuh dalam dosa. Lucifer pun menjadi pemimpin bagi iblis. Dunia sempat dikejutkan berita bahwa Lucifer merasuk dalam tubuh Anneliese Michel, seorang gadis Jerman kelahiran 21 September 1952. Anneliese selalu berteriak histeris dan meronta. Akhirnya, ia meninggal ketika berusia 23 tahun.
Meskipun kisah nyata ini masih menjadi polemik, namun Scott Derrickson memberanikan diri untuk mengangkat peristiwa tersebut dalam film yang disutradarinya The Exorcism of Emily Rose. Setidaknya, melalui film ini, kita menyadari bahwa kehadiran iblis terus ada dari dulu hingga sekarang.
Sementara itu, Dosen Teologi Robby Wowor, mengatakan 666 memang memiliki muatan tersendiri dalam kitab Injil. Ia menjelaskan, Tuhan menciptakan 7 hari yang berarti sempurna. Sedangkan angka 6, berarti mengindikasikan 7 dikurangi 1, yang artinya jauh dari sempurna dan tidak baik. Pengulangan angka 6 sebanyak tiga kali merepresentasikan sebuah kesungguhan. Maksudnya, 666 adalah seseorang yang sungguh-sungguh jahat. Atau dengan kata lain, murtad.
Apa pun itu, angka 666 menjadi mitos yang lekat dengan semua yang jahat, dan yang buruk. Nah, Alfred Suci melalui novelnya 666, Novus Ordo Seclorum, membuat kita bertanya: “Bagaimana jika ternyata hedonisme adalah skenario sang iblis?” Apakah hubungan 666 dengan kisah yang diulas dalam novel ini?
Demikian pertanyaan menggelitik itu terpampang di halaman enam, sebelum daftar isi. Meskipun kisah ini berdasarkan cerita fiktif, namun buku terbitan Hi-Festpublishing ini mengungkap perilaku manusia yang menghantarkan manusia pada kehancuran.
Awalnya, kejanggalan terjadi ketika Indra dan Adrian yang bertugas sebagai polisi menemukan mayat yang tewas dengan cara yang mengenaskan. Semua cara meninggalnya sama, yaitu dengan tubuh yang tergantung. Kepala di bawah dan kaki di atas. Selain itu, di bawah kepala korban ada kubangan darah.
Yang mengherankan, hampir semua korbannya adalah mereka yang berasal dari kelas atas, tenar dan memiliki jabatan mapan. Korban memiliki ciri yang sama, tidak ditemukan cirri-ciri kekerasan fisik dan hanya ada sidik jari sang korban.
Korban terus berjatuhan hingga tak terasa menjadi sebuah benang merah yang menakutkan. Jika dilihat dari peta kota Jakarta, tempat kejadian perkara (TKP) membentuk sebuah pentagram dengan lima sudut.
Tidak hanya itu, novel ini pun memiliki kisah-kisah misterius yang terus membuat kita untuk menebak, siapa yang membuat ulah di balik ini semua. Penulis kerap piawai merangkaikan urutan waktu peristiwa demi peristiwa. Selain itu, penggambaran deskripsi kematian korban begitu detil
Dalam beberapa adegan, penulis pun menggambarkan sebuah upacara ritual yang menakutkan, dimana upacara tersebut memerlukan tumbal, yaitu korban manusia, untuk mendapatkan sebuah kekayaan. Novel ini pun kerap mengulas kehidupan manusia yang kini lekat dengan gaya hidup pesta, pemborosan, narkoba, seks bebas dan bertindak semaunya
Selain itu, ada yang hal penting yang kita petik dalam buku setebal 182 halaman ini. Kisah ini memiliki pesan moral bahwa, Iblis mampu membawa manusia pada kenikmatan dunia yang tiada taranya, namun hanya satu yang tak bisa ia berikan, yaitu kebahagiaan.
Percaya nggak, Anda bisa keliling Eropa selama sebulan dengan dana hanya 40 Euro? Rasanya memang mustahil. Namun seorang backpacker sejati, NoneSee, telah membuktikannya! Ia sudah keliling ke berbagai tempat yang unik dan menarik di benua Eropa dengan menyiasati segala keperluan. Toh, perjalanan malah bertambah seru, lucu, mengesankan sekaligus mengharukan.
Siapa pun tak ingin menjadi yang tersisih dan terhina, termasuk untuk seorang narapidana. Tidak hanya mendapatkan hukuman, tapi masuk penjara merupakan beban moral. Belum lagi ia harus menerima penghakiman massal dari orang-orang sekitar yang merasa lebih bersih. Namun, dibalik semua itu, penjara bisa menjadi sebuah titik balik bagi manusia untuk menemukan Tuhan.