05Jum182012

Back Katalog Buku Saku/Novel Anak Rembulan Abimanyu
PrintE-mail



Anak Rembulan Abimanyu
View Full-Size Image


Anak Rembulan Abimanyu


Ask a question about this product

Penulis: Dwi Klik Santosa
Ukuran: 16 X 21,5 cm
Tebal: 212 hlm
Penerbit: Wayang Indonesia
ISBN: 978-602-97407-0-7
Harga: Rp 69.500,-

"Meskipun masih belia, engkau ini sungguh seorang ksatria yang budiman. Sikapmu gagah tapi hatimu lembut. Demi niat ingin membela keadilan, engkau berani dan tidak takut menghadapi bahaya. Aku bangga kepadamu, anakku. Sudah saatnya tiba, sebagaimana kehendak dewata aku harus menitis menyatu ke dalam jiwamu."

Sehabis kata-kata diucap Dewi Soma, hilang seketika wujudnya, berubah menjadi seberkas cahaya. Cahaya samar-samar itu pun terbang begitu saja, lenyap ke dalam sosok Abimanyu.
"Wayang konon menurut mulanya berarti bayangan. Mungkin maksudnya adalah sebagai simbol untuk bercermin bagi manusia. Dan Abimanyu dalam cerita Dwi Klik Santosa ini barangkali dimaksudkan untuk memberi gambaran, betapa seorang ksatria itu sudah seharusnya berani dan tidak mengenal takut untuk menyatakan kebenaran, betapapun harganya!!!
Ni Gusti Ayu Sukmadewi Djakse
Ketua Umum Srikandi Demokrasi Indonesia

"Transformasi wayang ke pakeliran novel grafis. Akrab, eksploratif, pakem tetap terjaga. Klasisisme wayang tidak pernah pudar. Abimanyu Anak Rembulan membuktikannya."
BreRedana, Wartawan Senior Kompas.

"Apa yang tersaji di buku ini membuktikan tradisi dan kekuatan lokal mempunyai daya saing yang sama-sama mentakjubkan dengan yang kerap disebut 'internasional'. Lebih celaka lagi, yang 'international' itu selalu identik dengan Barat, sementara kebudayaan Timur selalu diposisikan 'bukan internasional'. Sekarang saatnya menghentikan penyakit kroco jiwa. Wayang -- juga batik, jathin, reog, dan lain-lain -- juga punya martabat untuk bersanding setara di kancah dunia."
Butet Kartaredjasa, Aktor

"Belajar dari Abimanyu kita jadi tahu, keberanian dan keutamaan itu bukanlah itu bukanlah sesuatu yang tersenyum lalu muncul tiba-tiba. Ia adalah hasil upaya, ikthiar, dan tempaan hidup. Dan sebagai nilai kehidupan, keberanian dan keutamaan tetap relevan sepanjang zaman."
Nurul Arifin, Anggota DPR/MPR RI.